Langsung ke konten utama

Pendopo dijadikan Heritage

INDRAMAYU 31/10/2011 (www.humasindramayu.com) - Pendopo Kabupaten Indramayu dijadikan sebagai warisan budaya atau heritage. Penetapan ini dilakukan Bupati Indramayu Hj. Anna Sophanah yang bertepatan dengan momen peringatan Hari Jadi Indramayu ke 484 beberapa waktu lalu.

 

Sebagai warisan budaya, Pendopo Indramayu harus bisa dijaga dan dilestarikan oleh semua pihak. Keseriusan Pemkab Indramayu dalam menjadikan Pendopo sebagai heritage adalah dengan diberikannya nama-nama pelaku sejarah di Indramayu yaitu Ruang Pendopo Utama diberi nama Raden Bagus Aria Wiralodra, dan Ruang Pendopo Dalam diberi nama Nyi Mas Endang Dharma.

 

Kemudian ruangan lain yang juga diberi nama yaitu Ruang Depan Sebelah Kanan (ajudan) diberi nama Ki Tana, Ruang Depan Sebelah Kiri (sekpri) diberi nama Nyi Tani. Ruang Data I diberi nama Ki Tinggil dan Ruang Data II diberi nama Ki Sidum.

 

"Penamaan ruangan-ruangan tersebut merupakan upaya untuk melestarikan budaya dan mewariskan sejarah Indramayu kepada anak cucu kita, sehingga diharapkan nilai-nilai positifnya dapat membentuk kepribadian generasi penerus Indramayu yang berkarakter dan berakhlak mulia." Kata Bupati Anna.

 

Dengan dijadikannya Pendopo Indramayu sebagai warisan budaya banyak pihak menyambutnya dengan baik. Dewan Kesenian Indramayu berharap penetapan ini bukan hanya sebatas seremonial, tapi juga harus ada langkah konkret dari pihak-pihak yang terkait untuk berkomitmen melestarikannya. (deni/www.humasindramayu.com)

Postingan populer dari blog ini

Dinkes Perketat Penjualan Pil Dextro

INDRAMAYU 28/11/2012 ( www.humasindramayu.com ) – Untuk mengurangi nyawa melayang akibat over dosis konsumsi pil dextro di Kabupaten Indramayu. Dinas Kesehatan telah menyebarkan surat edaran mengenai aturan pembelian pil berwarna kuning tersebut. "Surat edaran itu saya sebarkan ke seluruh apotek, toko obat, dan puskesmas," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohendi, Selasa (27/11). Dalam surat edaran itu disebutkan bahwa seluruh apotek, toko obat, maupun puskesmas untuk tidak menjual pil dextro secara sembarangan. Untuk penjualan pil dextro kepada masyarakat umum, hanya bisa maksimal sepuluh butir atau dengan resep dokter. Dedi mengakui, pil dextro merupakan obat bebas yang bisa dijual secara bebas tanpa membutuhkan resep dari dokter. Namun, mengingat banyaknya penyalahgunaan pil dexro hingga menyebabkan korban berjatuhan, maka aturan itu terpaksa diterapkan. "Jika ada apoteker yang melanggar aturan itu, maka izinnya aka

Rara Roga, Refleksi Sunyi Kesucian Jiwa

Rara Roga, Refleksi Sunyi Kesucian Jiwa Matahari telah lama tertidur di peraduannya. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan kelam. Burung malam telah jauh meninggalkan sarangnya. Kicauannya menyapa dedaunan yang basah sisa hujan sore hari. Angin malam mengendap-endap dalam gelap, menelisik sisi kanan-kiri tanggul Cimanuk, mencari jejak yang telah lama hilang terkubur lumpur Gunung Papandayan. Namun, permukaan air di muara sungai Cimanuk sangat tenang. Tidak ada riak air yang bergejolak. Tidak ada turbulensi pusaran air yang besar. Apalagi banjir bandang yang menjebol tanggul dan merendam ratusan desa sepertu puluhan tahun yang silam. Malam itu hilir sungai Cimanuk sangat tenang dan teramat tenang. Seolah tidak terpengaruh dengan kebisingan dan keriuhan di atas punggungnya. Di bawah temaram lampu Taman Cimanuk, diiringi suara gamelan, tampak gadis-gadis melenggak-lenggokan badannya dengan gemulai. Tangan dan jari-jemarinya bergerak lentur mengikuti irama

Sendratari Babad Dermayu, Kisah Indramayu Dalam Tarian

        Berlatang belakang kain putih yang membentang di bawah tugu bambu runcing di alun-alun Indramayu, pagelaran seni Sendratari Babad Indramayu sangat memukau penonton. Berkolaborasi dengan dalang wayang kulit dan diiringi musik tradisional, pertunjukan tari-tarian besutan sutradara Drs. Wregul W. Darkum ini menceritakan perjalanan Kota Indramayu   dari masa ke masa sejak abad ke-5 sampai abad 17, mulai Kerajaan Manukrawa, Padjajaran, Sumedang Larang, Majapahit sampai Mataram Islam.         Pertunjukan dibuka dengan narasi dari dalang wayang kulit yang mengisahkan Indramayu abad ke-5 di bawah Kerajaan Manukrawa. Belasan penari yang berkostum kerajaan tampak melenggak-lenggok di panggung dengan gerakan yang gemulai. Setelah itu, muncul tari topeng kelana yang menjadi tarian khas Indramayu. Saat Indramayu di bawah Kerajaan Demak, belasan penari rudat yang menandakan zaman Islam bermunculan memenuhi seisi panggung. Puncak pertunjukan terjadi saat Indramayu